Rabu, 21 Maret 2012

PUSAT INFORMASI DAN KONSELING REMAJA (PIK REMAJA)


Pada tahun 2007 jumlah remaja umur 10 – 24 tahun sangat besar terdapat sekitar 64 juta atau 28, 6 % dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 222 juta (Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2000-2005, BPS, Bappenas, UNFPA, 2005 ). Disamping jumlahnya yang besar, remaja juga mempunyai permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialamai remaja.
Masalah menonjol yang dikalangan remaja misalnya masalah seksualitas (kehamilan tak diinginkan dan aborsi), terinfeksi Penyakit menular Seksual (PMS), HIV dan AIDS, penyalahgunaan Napza dan sebagainya.

PIK Remaja adalah salah satu wadah kegiatan program PKBR ( Penyiapan kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja) yang dikelola oleh,dari dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling kesehatan reproduksi serta penyiapan kehidupan berkeluarga. 
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Kehidupan remaja merupakan kehidupan yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan mereka selanjutnya. Masa remaja seperti ini oleh Bank Dunia disebut sebagai masa transisi kehidupan remaja. 

Transisi kehidupan remaja oleh Bank dunia dibagi menjadi 5 hal ( Youth Five Life Transitions). Transisi kehidupan yang dimaksud menurut Progress Report World Bank adalah :

1.      Melanjutkan sekolah (continue learning)
2.      Mencari pekerjaan ( start working)
3.      Memulai kehidupan berkeluarga ( form families)
4.      Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)
5.      Mempraktekan hidup sehat ( practice healthy life).

Program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja) yang dilaksanakan berkaitan dengan bidang kehidupan yang kelima dari transisi kehidupan remaja dimaksud,  yakni mempraktekan hidup secara sehat (practice healthy life).  Empat bidang kehidupan lainnya yang akan dimasuki oleh remaja sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya remaja mempraktekan kehidupan yang sehat. Dengan kata lain apabila remaja gagal berprilaku sehat, kemungkunan besar remaja yang bersangkutan akan gagal pada empat bidang kehidupan yang lain.

Dari darta-data yang berkaitan dengan gambaran prilaku sehat remaja, khususnya yang berhubungan dengan resiko TRIAD KRR  (Seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS), tampaknya sebagaian remaja Indonesia berprilaku tidak sehat. Prilsaku tidak sehat tersebut seperti terlihat pada data berikut ini.

Seksualitas.

·      Seks Pra Nkah
Berdasarkan Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI 2002-2003) didapatkan bahwa remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14-19 tahun (perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%), sedangkan usia 20-24 tahun (perempuan 48,6 %, laki-laki 46,5 %). Dari penelitian yang dilakukan oleh Wimpie Pangkahila tahun 1996 terhadap  633 pelajar di Bali, didapatkan bahwa 27 %  remaja laki-laki dan 18 % remaja perempuan mempunyai pengalaman hubungan seks pranikah. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Situmorang tahun 2001 didapatkan 27 % remaja laki-laki dan 9 % remeja perempuan di Medan mengatakan sudah melakukan hubungan seks.

Hasil penelitian DKT Indonesia 2005, menunjukan prilaku seksual remaja di 4 kota Jabotabek, Bandung, Surabaya dan Medan berdasarkan norma yang dianut, 89% remaja tidak setuju adanya seks pra nikah,  namun kenyataannya 82 %  remaja punya teman untuk melakukan seks pra nikah, 66% remaja punya teman seks dan hamil sebelum menikah. Remaja secara terbuka menyatakan melakukan seks pra nikah di Jabotabek 51 %, Bandung 54 %, Surabaya 47 %  dan Medan 52 %.
Dari data PKBI tahun 2006 didapatkan bahwa kisaran umur pertama kali melakukan hubungan seks pada umur 13-18 tahun, 60 % tidak menggunakan alokon, 85 % dilakukan di rumah sendiri.

Menurut survey Komnas Perlindungan Anak di 33 Provinsi, Januari – Juni 2008 menyimpulkan :
1.    97 % remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno.
2.   93,7%  remaja SMP dan SMA  pernah ciuman, genital simulation (meraba alat kelamin dan oral sex (sex melalui mulut)
3.   62,7 % remaja SMP tidak perawan.
4.   21,2 % remaja mengaku pernah aborsi.

Faktor yang paling mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual (3  X lebih besar) adalah :
1.   Teman sebaya, yaitu mempunyai pacar.
2.    Mempunyai teman yang setuju dengan hubungan seks pra nikah
3.   Mempunyai teman yang mempengaruhi atau mendorong untuk melakukan seks pr nikah ( Analisa Lanjut SKRRI 3003)

Prilaku seks pra nikah remaja cenderung terus menimngkat seperti diuraikan diatas, sehingga kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) juga terjadi pada kelompok remaja. Disamping itu jumlah kelompok remaja  di Indonesia yang saat ini sudah menginginkan suatu pelayanan KB tersedia bagi kelompok mereka, ternyata datanya sanfat mencengangkan. 

Data SKRRI 2007 menunjukkan 90 % remaja perempuan dan 85 % remaja laki-laki menginginkan pelayanan KB diberikan kepada mereka. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan  hasil SKRRI  2002 yang hanya 52 %  remaja perempuan dan 41 % remaja laki-laki masing –masing meminta untuk dapat diberikan pelayanan kontrasepsi.
Jika 90 % remaja perempuan dan 85% remaja laki-laki yang saat ini sudah menginginkan pelayanan alat kontrasepsi dikaitkan dengan jumlah remaja umur 15-24 tahun yang jumlahnya sekitar 42 juta jiwa, berarti sekita 37 juta jiwa remaja yang membutuhkan pelauyanan alat kontrasepsi tidak terpenuhi atau ummet need berKB untuk kelompok remaja.

Ummet need ber KB untuk kelompok remaja akan tetap menjadi ummet need, karena defiinisi Keluarga Berencana menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1992 tentang Perkembnangan Kependudukan dan Pengembnagnan Keluarga Sejahtera adalah untuk “Pasangan Suami Istri sesuai dengan pilihannya” Dengan demikian pemberian pelayanan kontrasepsi kepada remaja bertentangan dengan Undang-Undang.
·      
       Aborsi

Berdasarkan dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI, Rakyat Merdeka tahun 2006) yang merujuk pada data Terry Hull dkk (1933) dan Utomo dkk tahun 2001, didapatkan bahwa 2,5 juta pernah melakukan aborsi per tahun, 27% ( sekitar 700 ribu) dilakukan oleh remaja, dan sebagian besar dilakukan dengan cara tidak aman. Sekitar 30-35 % aborsi adalah penyumbang kematian ibu (307/100 ribu kelahiran) dan tercatat bahwa Angka Kematian Ibu (Mother Mortality Rate) di Indonesia adalah 10 kali lebih besar dari Singapura.

·      Narkoba

Berdasarkan data BNN 2004, menunjukkan bahwa 1,5 % dari jumlah penduduk Indonesia (3,2 juta jiwa) adalah pengguna narkoba. Dari jumlah tersebut, 78 % dianataranya adalah remaja usia 20-29 tahun.

·      HIV dan AIDS (Depkes 2009)

Secara komulatif jumlah kasus AIDS sampai dengab Sepetember 2009  sebesar 18.442 kasus. Berdasarkan cara penularannya secara komulatif dilaporkan antara lain melalui heteroseksual 49.7 %, IDU 40,& %, homoseksual 3,4 %, perinatal 2,5 % , transfuse darah 0,1 % dan tidak dikatahui 3,7 %. Menurut 4 golongan usia tertinggi adalag usia 20 – 29 tahun sebanyak 49,6 %,  usia 30-39 tahun 29,8 %, usia 40-49 tahun 8,7 %, usia 15-19 tahun 3,0%. Perbandingan persentase kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 74,5 % : 25,5 % atau 3 : 1.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa masalah remaja  Indonesia adalah :
1.      60 % remaja mengaku telah melakukan atau mempraktekkan seks pra nikah.
2.      70 % dari  pengguna Narkoba adalah remaja.
3.      50 % dari pengidap AIDS adalah kelompok umur remaja.

Jadi sejumlah itulah remaja Indonesia yang terganggu kesempatannya untuk melanjutkan sekolah, memasukki dunia kerja, memulai keluarga dan menjadi anggota masyarakat secara baik. Sejumlah itu pula remaja yang tidak siap untuk melanjutkan tugas dan peran sebagai generasi penerus bangsa.
Untuk merespon permasalahan remaja tersebut, Pemerintah (cq BKKBN) telah melaksanakan dan mengembangkan program PKBR yang diarahkan untuk mewujudkan Tegar Remaja dalam rangka Tegar Keluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.

 Ciri-ciri Tegar Remaja adalah :
 
1.      Remaja yang menunda pernikahan
2.      Remaja yang berprilaku sehat
3.      Terhindar dari dari resiko TRIAD KRR ( Seksualitas, Napza, HIV dan AIDS)
4.      Bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
5.      Remaja yang dapat menjadi contoh/model
6.      Remaja yang menjadi idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Upaya untuk mewujudkan remaja Indonesia melalui program PKBR sesuai deng Bank Report, 2007)an konsep Tegar Remaja tersebut akan diupayakan melalui strategi  Tegar Remaja. Strategi Tegar Remaja merujuk pada lessons learned dari evaluasi prpgram ARH tahun 1990-2000, School af Pulic Health, University of Michigan USA 2005 dan evaluasi program di Asia, Afrika dan Amerika Latin (World Bank report 2007)

Strategi Tegar Remaja adalah program PKBR yang dilaksanakan melalui pengembangan factor-faktor pendukung (promotive factor) program PKBR dan remaja, dalam konteks dan situasi faktor resiko TRISD KRR. Program PKBR apabila tidak dilaksanakan dengan pengembangan factor pendukug tersebut akan mengakibatkan meningkatnya jumlah remaja yang bermasalah. Dengan meningkatnya jumlah remaja yang bermasalah,  akan mengganggu pencapaian tugas-tugas perkembangan remaja. 

Tugas-tugas pertumbuhan  dan perkembangan remaja tersebut adalah sebagai berikut :

1.  Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara individual, yaitu pertumbuhan fiisik, perkembangan mental, emosional dan pspiritual.
2.  Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara sosia, yaitu melanjutkan sekolah, mencari pekerjaan, memulai kehidupan berkeluarga, menjadi anggota masyarakat yang normal dan mempreraktekan hidup sehat, seperti yang telah diuraiakan sebelumnya.

Akan tetapi apabila program PKBR didukung oleh ketiga factor pendukung, yaitu :

1. Peningkatan assets/capabilities remaja atau pengembangan segala sesuatu yang positif seperti terdapat pada diri remaja (pengetahuan, sikap, prilaku, hobi, minat dan sebagainya).
2. Pengembangan resources/opportunities, yaitu jaringan dan dukungan  yang diberikan kepada remaja dan program PKBR oleh semua stakeholders terkait ( orang tua, teman, sekolah, organisasi remaja, pemerintah, media massa dan sebagainya).
3.   Pemberian pelayanan ke sua (second chance) kepada remaja yang menjadi korban TRIAD KRR, agar bisa sembuh dan kembali hidup normal, maka pelaksanaan Program PKBR  akan nebghasilkan Tegar Remaja (TR) seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Salah satu kegiatan program PKBR yang mengembangkan ketiga strategi tersebut diatas, adalah kegiatan yang dilaksanakan 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar