Senin, 19 Maret 2012

API DAN ASAP



Suatu ketika ada kapal tenggelam akibat diterjang badai. Tak ada penumpangnya yang tersisa, kecuali seorang pria yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun nasib baik belum seutuhnya berpihak pada pria itu. Dia terdampar ke sebuah pulau kecil tak berpenhuni. Sendiri, tanpa bekal makanan.

Orang itu berdoa minta kepada Tuhan minta diselamatkan. Usai berdoa, ia pandangi penjuru cakrawala, sambil berharap semoga ada kapal yang dating. Tapi tak ada tanda-tanda ada kapal yang diharapkan tiba. Ia berdoa lagi lebih khusuk. Kemudian, menatap jauh ke laut lepas. Tidak ada kaapal dating. Sekali lagi pria itu berdoa, tapi tak ada juga kapal yang diharapkan. Ya, pulau tempatnya terdampar terlalu kecil. Hamper tidak ada kapal yang lewat di dekatnya.

Akhirnya, pria itu tidak berdoa lagi, ia telah lelah berharap. Lalu, ia menghangatkan badan. Dikumpulkannya pelepah nyiur yang berserak untuk membuat perapian dengan memanfaatkan bebatuan dan sinar matahari.  Setelah tubuhnya terasa nyaman, pria itu membuat rumah-rumahan untuk sekedar melepas lelah. Disuunnya semua pelepah nyiur dengan cermat agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria itu mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahainya hinga kemudian ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut, semuaanya telah hangus terbakar dan rata dengan tanah, hamoir tak tersisa. Gubuk itu terbakar karena ia lupa memadamkan perapian. Asap membumbung tinggi ke angkasa, dan hilanglah kerja keras semalaman.

Pria itu berteriak marah, “Tuhan, mengapa Kau lakukan ini padaku, mengapa… ? Mengapa… ?” teriakannya melengking menyesali nasib.
Tiba-tiba terdengar suara peluit, Teeettt…. Teettt…. ! Ternyata itu suara sebuah kapal yang sedang mendekat. Kapal itu merapat ke pantai, dan beberapa orang turun menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya itu. Tentu saja pria itu terkejut. “Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada disini  ?” tanyanya penuh keheranan. “Kami melihat symbol asapmu” jawab salah seorang awak kapal. Teman, itulah kita. Kita adalah orang yang manja dan pemarah saat ditimpa musibah. Bahkan, selalu menilai bahwa nestapa yang kita terima adalah penderitaan yang begitu berat dan tak pernah dirasakan oleh siapapun. Itulah sebabnya kenapa kita begitu mudah mengeluh, mudah marah, bahkan mengumpat.
Teman, tentu sikap itu tidak tepat. Seharusnya, musibah tidak boleh membuat kita kehilangan hati kita. Tuhan harus selalu ada di hati kita, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun. Sebab, Tuhan itu tidak pernah tidur. IA tahu betul kegelisahan dan jeritan umatnya, jeritan hati kita. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan kashNYA selal dating kepada kita, pada saat dan dengan cara yang tidak disangka-sangka. Namun sering kita terlalu kerdil untuk memahaminya. (Eyang – P. Yon – 01032012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar